Keujudan bangsa Mim yang tak hilang di dunia



Kita semakin menghampiri kepada kemuncak tajuk. Segala puzzle hampir selesai. Cuma tinggal sedikit saja lagi mengenai misteri bangsa MIM ini. Apakah itu MIM dan apa kaitannya dengan MELAYU pula. Mari kita selesaikan misteri ini dengan secepat mungkin dan dengan padat.

Seperi yang saya terangkan sebelum ini, Wasiat Nuh menyuruh bangsa MIM dan anak cucunya menuju ke pentas sunda yang tenggelam. Ini kerana, Pentas sunda adalah tanah paling tinggi dan di kenali sebagai IBU TANAH. Tiap perkara mempunyai ‘center’ atau tempat kelahiran. Begitu juga dengan tanah. Tanah telah berkembang dari daratan pentas sunda yang ketika itu hanya ada satu benua semata-mata. Pentas sunda tetap di situ akan tetapi seperti yang saya beritahu tadi, tiap perkara harus ada batasnya. Jadi, pentas sunda harus ‘mati’. Tapi, penciptaan dunia dan akhirat mempunyai ‘LAW’ dia tersendiri. Tiap yang ‘mati’ akan ‘bangkit’ kembali. Seperti manusia yang mati, akan di bangkitkan di alam barzah dan kemudiannya di alam akhirat. Tapi sebenarnya, Alam barzah itu hanyalah ‘pit stop’ atau hentian semata-mata. Begitu jugalah semua perkara. Sebelum di bangkitkan semula, akan ada ‘hentian seketika’ sebelum kebangkitan sepenuhnya berlaku.

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.”
Ayat 6 surah al-anaam

Jika musnah sesuatu bangsa atau kaum itu, akan bangkit sesuatu kaum dari kaum yang di binasakan itu dengan yang lebih baik. Kita adalah generasi dari kaum-kaum yang telah di musnahkan kerana itu adalah sunnahtullah. Tapi, kita harus ingat bahawa tiap kaum dan bangsa baik yang ada sekarang tetap akan mengalami proses yang serupa andai kata mereka tidak kembali ke jalan ALLAH. Tapi, ada suatu bangsa ini tidak akan musnah selama-lamanya.
Bangsa ini adalah bangsa MIM. Kenapa tidak dapat di musnahkan..hebat sangatkah?!

Ya, cukup hebat. MIM ini harus wujud kerana itu adalah ‘perintah’ pada ADAM dan warisnya sehinggalah dunia di kiamatkan. Boleh di katakan bangsa yang terakhir akan ‘mati’ adalah bangsa MIM. Jadi, apakah sebenarnya bangsa MIM ini. Mari kita selesaikan bongkah blok yang terakhir ini.

Mari kita imbas kembali dari ERA NuH, ERA IBRAHIM dan perjalanan seterusnya.
Pada Era Nuh, anak cucu Nabi Nuh akan menjadi raja-raja agung dan memimpin manusia di kala itu. Di dalam bahtera itu, terdapat suatu bangsa yang sudah asimilasi akibat lamanya pelayaran itu. Bangsa itu di namai Bangsa MIM atau Quraisy Kuno (wallahuaklam). Tapi, selepas beberapa ribu dan ratusan tahun, kucar kacir mulai berlaku. Penyembahan berhala mulai berlaku di sana sini. Ia seolah-olah mengulangi kejadian pada ERA ADAM dahulu yang mana terdapat mereka yang menyembah DEWA-DEWI dari waris ADAM yang di beri ILMU SEGALA ini.

Darah keturunan yang sepatutnya menjadi raja di buru dan di bunuh. Bangsa MIM mulai berpuak-puak dan membentuk suku kaum masing-masing. Akhirnya pelbagai bangsa wujud akan tetapi ia di khianati dengan penyembahan sesama makhluk yang sepatutnya tidak berlaku. Dari situlah bencana mulai berlaku. Bangsa-bangsa ini di hapuskan dan di ganti dengan bangsa yang lebih baik. Maka, kitalah generasi di zaman ini menunggu-nunggu detik
‘mati’ bangsa-bangsa seperti yang di beritahu dalam Al-quran.

Seperkara lagi, meskipun banyak bangsa di hapuskan, akan tetapi akan terdapat mereka yang di selamatkan. Golongan yang di selamatkan inilah golongan beriman yang di pimpin oleh para nabi yang juga mempunyai ILMU SEGALA ini. Tapi tidak semua bangsa pada zaman dahulu yang di hapuskan. Ada juga yang berevolusi dan menjadi bangsa pada zaman ini seperti bangsa eropah yang bermula dari golongan Babarian.

Kemudiannya, pada ERA IBRAHIM, isteri-isteri baginda yang datang dari darah keturunan yang mulia banyak melahirkan bangsa yang menjadi induk pada masa kini. Seperti yang kita ketahui, Hajar melahirkan ARAB, Sarah melahirkan Bani isreal dan eropah dan QETURAH melahirkan bangsa pahlawan seperti Babylon, Akkadian, Cheldea dan ARYAN.

INFO – PENDEKAR SUFI

About Sifuli

Bicara tentang makan minum, tidur baring, dan beranak pinak yang membina adat resam untuk kehidupan rohani, jasmani, jiwa dan raga. Diantara weblog Sifuli yang popular adalah seperti berikut: Dukun Asmara bicara tentang beranak pinak. Hipnotis Sifuli bicara tentang tidur baring. Jalan Akhirat bicara tentang adat resam (agama) Doa Ayat dan Zikir untuk rohani jasmani jiwa dan raga. Jika tak suka sekali pun janganlah tinggalkan komentar yang keterlaluan. Kerana segalanya adalah sekadar ilmu pengetahuan. Wasalam.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Keujudan bangsa Mim yang tak hilang di dunia

  1. khairul says:

    Husain as.(Sang Pemilik gambar diatas) Bersama Sang Ayah

    Imam Husain as. pernah menikmati kasih sayang ayahnya. Sangat besar sekali kecintaan dan kasih sayang sang ayah itu kepadanya, sehingga ia tidak mengizinkan Husain dan saudaranya, Hasan as., untuk turut serta dalam penyerangan-penyerangan militer pada saat perang Shiffîn bergejolak supaya keturunan Rasulullah saw. tidak terputus. Imam Ali as. telah membangun keutamaan Husain dan kemuliaan saudaranya, Hasan as. Ia telah memberikan warisan pengetahuan dan kejeniusan kepada kedua putranya itu, dan membekali mereka dengan adab dan hikmah sehingga mereka menjadi manifestasi dirinya.
    Imam Husain as. menyerupai ayahnya dalam keberanian, kemuliaan, dan seluruh karakteristik yang agung. Ia telah memilih mati syahid dengan cara dibantai oleh Bani Umayyah daripada menyerah kepada mereka. Ia telah mengorbankan hidupnya dan pasrah mati di jalan kemuliaan. Berikut ini beberapa hadis tentang perjuangannya ini:

    Imam Ali as. Memberitakan Syahadah Putranya

    Imam Amirul Mukminin Ali as.-sebagaimana Rasulullah saw.-pernah memberitakan tentang syahadah putranya, Imam Husain as. Berikuti ini beberapa hadis yang pernah diriwayatkan darinya:

    1. Abdullah bin Yahyâ meriwayatkan dari ayahnya yang pernah ikut serta bersama Imam Ali as. dalam perang Shiffîn. Ayahnya adalah sahabat dekat Imam Ali as. Ketika sampai di Nainawâ, Imam Ali as. berteriak: “Sabarlah, hai Abu Abdillah! Sabarlah, hai Abu Abdillah! (Sabarlah) mengingat tepi sungai Furat!”
    Yahyâ bangkit dan bertanya: “Apa gerangan yang akan terjadi pada Abu Abdillah?” Imam Ali menjawab: “Suatu hari aku menjumpai Rasulullah saw. sementara kedua matanya berlinang air mata. Aku bertanya kepadanya: “Ya nabi Allah, apakah seseorang telah membuat Anda marah? Apa yang membuat mata Anda berlinang?’ Ia menjawab, ‘Jibril telah datang kepadaku dengan membawa berita bahwa Husain akan dibunuh di tepi sungai Furat. Apakah kamu ingin mencium tanahnya?’ ‘Ya’, jawabku pendek. Lalunya mengambil segumpal tanah dan memberikannya kepadaku. Melihat tanah itu, aku tidak kuasa menahan linangan air mataku.”

    2. Hartsamah bin Salîm meriwayatkan: “Kami ikut serta berperang bersama Ali bin Abi Thalib pada perang Shiffîn. Ketika sampai di wilayah Karbala, kami menunaikan salat. Setelah usai salam, Imam Ali mengambil segumpal tanah Karbala dan menciumnya seraya berkata, ‘Sungguh mulia engkau, hai tanah Karbala. Sungguh ada sekelompok orang yang akan dibangkitkan darimu dan masuk surga tanpa dihisab.'”
    Hartsamah terkejut dengan ucapan Imam Ali itu, dan ucapan itu senantiasa mengiang di telinganya. Setelah tiba di rumah, Hartsamah menceritakan kejadian itu kepada istrinya yang bernama Jardâ’ binti Samîr, dan ia adalah seorang pengikut setia Amirul Mukminin as. Hartsamah menceritakan ucapan yang telah ia dengar dari Imam Ali. Istrinya berkata: “Biarkan aku, hai suamiku. Sesungguhnya Amirul Mukminin tidak mengatakan sesuatu kecuali benar.”
    Selang beberapa tahun, Ibn Ziyâd mengutus bala tentaranya untuk memerangi buah hati Rasulullah saw., Imam Husain as. Hartsamah berada di barisan bala tentara itu. Ketika sampai di Karbala, ia teringat akan ucapan Imam Ali as. Seketika itu juga ia enggan untuk memerangi Imam Husain as.
    Hartsamah datang menghadap Imam Husain as. dan menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Imam Ali as. Imam Husain as. bertanya kepadanya: “Kamu bersama kami atau ingin memerangi kami?” Hartsamah berkata: “Aku tidak ingin bersama Anda dan juga tidak ingin memerangi Anda. Aku telah meninggalkan istri dan anakku. Aku takut Ibn Ziyâd akan menganiaya mereka.”
    Imam Husain as. menasihatinya sembari berkata: “Jika begitu, lekaslah kabur sehingga kamu tidak menyaksikan kami terbunuh. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, pada hari ini tak seorang pun yang menyaksikan kami dibunuh lalu ia tidak menolong kami, melainkan Allah pasti akan memasukannya ke dalam neraka.” Hartsamah pun kabur dan tidak menyaksikan Imam Husain as. dibantai.

    3. Tsâbit bin Suwaid meriwayatkan dari Ghaflah: “Suatu ketika Ali as. berpidato. Seorang laki-laki berdiri di bawah mimbar seraya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku telah melewati Wâdil Qurâ dan aku temukan Khâlid bin ‘Urfathah telah meninggal dunia. Maka mintakanlah ampunan untuknya.’
    Imam Ali as. berkata, ‘Demi Allah, ia tidak mati, dan ia tidak akan mati sehingga ia memimpin sebuah bala tentara yang sesat. Pembawa benderanya adalah Habîb bin Himâr.’
    Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri seraya mengangkat suaranya: ‘Wahai Amirul Mukminin, aku adalah Habîb bin Himâr, dan aku adalah pengikut dan pecintamu.’
    Imam Ali as. berkata kepadanya: ‘Kamukah Habîb bin Himâr itu?’
    ‘Ya’, jawabnya pendek.
    Imam mengulangi pertanyaannya, dan Habîb kembali menjawab, ‘Ya’.
    Imam Ali as. berkata, ‘Demi Allah, kamu adalah pembawa bendera itu dan kamu pasti akan membawanya. Engkau pasti akan masuk melalui pintu ini.’ Imam Ali menunjuk pintu Al-Fîl di masjid Kufah.”
    Tsâbit melanjutkan: “Demi Allah, aku tidak meninggal dunia hingga aku melihat Ibn Ziyâd. Ia telah mengutus Umar bin Sa’d untuk memerangi Husain dan mengangkat Khâlid bin ‘Urfathah sebagai komandan pasukan dan Habîb bin Himâr sebagai pembawa benderanya. Habîb masuk lewat pintu Al-Fîl dengan membawa bendera itu.”

    4. Imam Amirul Mukminin Ali as. berkata kepada Barrâ’ bin ‘?zib: “Hai Barrâ’, apakah Husain akan dibunuh sementara kamu masih hidup, tetapi kamu tidak menolongnya?” Barrâ’ berkata: “Tidak seperti itu, ya Amirul Mukminin.”
    Ketika Imam Husain as. terbunuh, Barrâ’ merasa menyesal. Dia teringat akan ucapan Imam Amirul Mukminin as. Barrâ’ berkata: “Alangkah besarnya penyesalanku, karena aku tidak sempat membantu Husain as. dan alangkah baiknya bila aku terbunuh demi membelanya.”
    Banyak sekali hadis seperti ini yang telah dijelaskan oleh Imam Amirul Mukminin as. tentang syahadah buah hati Rasulullah saw. di Karbala itu. Kami telah memaparkan sebagian besar darinya dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Husain as.

    Dicatat oleh Datok Orang Kaya Nahza

  2. Nur Muhammad Al-Amin bin Mohd Asri says:

    mmg membantu

  3. abu iman says:

    Kajian yg berteorikan akal semata2,hanya menjauhkan diri dari Allah.Buang yg ragu ambil yg jelas..iktibar dan pengajaran dari kaum terdahulu yg dikhabarkan dalam al-Quran dan as-Sunnah sudah mencukupi dan rasanye x habis kaji lagi…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s